Beranda Perspektif Menelusuri Jejak Perang Biologis Jepang di Asia Tenggara

Menelusuri Jejak Perang Biologis Jepang di Asia Tenggara

Akademisi Singapura Lim Shao Bin memeriksa salinan materi arsip di kediamannya di Singapura pada 23 Agustus 2025. (Carapandang/Xinhua/Shu Chang)

0
Xinhua

   Kyoichi Takebana, seorang anggota Unit 9420 cabang Melayu, mengenang bahwa ketika puluhan anggota unit melarikan diri ke Laos pada 1945, mereka membakar banyak catatan setelah mengetahui Jepang menyerah.

   Lim sangat bergantung pada Pusat Jepang untuk Catatan Sejarah Asia (Japan Center for Asian Historical Records). Dia menyalin dan menduplikasi berkas-berkas penting karena khawatir suatu hari berkas tersebut tidak dapat diakses.

   Fumio Hara, seorang peneliti di Unit 731 sekaligus anggota Perhimpunan Riset Jepang untuk Perang dan Kedokteran (Japan's Research Society for War and Medicine), mengatakan bahwa dirinya telah meminta daftar unit-unit pencegahan epidemi dan pemurnian air yang dimiliki pemerintah Jepang, tetapi dokumen-dokumen yang diterimanya telah banyak disunting, berdalih melindungi "informasi pribadi". Beberapa catatan yang dulunya tersedia untuk umum juga telah ditutup, imbuhnya.

Foto yang diabadikan di Harbin, Provinsi Heilongjiang, China timur laut, pada 15 Agustus 2025 ini menunjukkan bukti baru Unit 731 yang diungkap di Aula Pameran Bukti Kejahatan yang Dilakukan oleh Unit 731 Tentara Kekaisaran Jepang. (Carapandang/Xinhua/Wang Song)

URGENSI UNTUK MENGUNGKAP KEBENARAN

   Pada 15 Agustus 1945, Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat. Pada tahun-tahun berikutnya, militer AS menyelidiki kekejaman Jepang di masa perang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here