"Saya bisa masuk di SRMA ini atas bantuan teman-teman saya, guru-guru saya, pendamping saya, dan banyak teman-teman saya," katanya.
SRMA 43 Magelang saat ini mengampu 100 siswa yang terbagi kedalam 4 Rombongan Belajar (Rombel). Proses belajar didukung oleh 17 orang guru, sedangkan untuk pendampingan siswa dilakukan oleh 10 Wali Asuh dan 2 Wali Asrama.
Zahwa menuturkan bahwa Sekolah Rakyat lebih unggul dari sekolah lain. "Karena di sini tempat tinggalnya nyaman, makanannya enak, teman-temannya seru, suasananya menyenangkan, banyak guru-guru yang sayang, tidak pilih kasih," pungkasnya.
Dalam pengembangan diri, Sekolah Rakyat juga hadir dengan berbagai pilihan ekstrakurikuler yang bisa diikuti siswa. Zahwa bisa kembali melanjutkan hobinya bermain basket. "Ekstrakurikuler basket akan dimulai hari Rabu minggu depan," ujarnya.
Saat ini 100 Sekolah Rakyat telah beroperasi di berbagai titik di seluruh Indonesia. Jumlah ini akan bertambah menjadi 165 titik pada September 2025. Kemensos menargetkan 165 Sekolah Rakyat beroperasi pada tahun ini dengan kapasitas 15.895 siswa, 2.407 guru dan 4.442 tenaga pendidik.
"Terima kasih Bapak Presiden. Sekolah rakyat telah membantu kami kembali bisa bermimpi," ujar Zahwa. dilansir kemensos.go.id